Ledakan Smart Meter di Asia-Pasifik dan Dampaknya bagi Sektor Energi
Dalam beberapa tahun terakhir, smart meter mulai menggantikan meter analog tradisional di banyak negara. Pergeseran ini bukan sekadar tren teknologi, tetapi bagian dari transformasi besar di sektor energi: pembacaan meter jarak jauh, pemantauan real-time, pengurangan kehilangan energi, hingga dasar bagi tarif listrik dan gas yang lebih dinamis.
Kawasan yang paling menonjol dalam tren ini adalah Asia-Pasifik. Berbagai laporan industri memperkirakan jumlah smart meter listrik di kawasan ini akan terus meningkat tajam hingga 2030, dari ratusan juta unit menjadi mendekati 1,3 miliar perangkat. Smart meter gas juga mengalami pertumbuhan serupa, dengan jumlah endpoint yang diproyeksikan hampir dua kali lipat dalam periode yang sama. Secara keseluruhan, Asia-Pasifik kini menjadi pasar smart metering terbesar di dunia, melampaui Amerika Utara dan Eropa jika digabung.
Negara-negara seperti China, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan sudah berada pada tahap implementasi lanjut. Rollout nasional smart electricity meter di sana hampir tuntas, dan fokus mulai bergeser ke penggantian generasi kedua dengan kemampuan lebih canggih. Smart meter tidak hanya mencatat konsumsi, tetapi juga mendukung tarif dinamis, analitik beban yang lebih detail, integrasi energi terbarukan, serta program pengelolaan permintaan (demand response) untuk menyeimbangkan jaringan listrik.
Di sisi lain, negara berkembang seperti India dan Bangladesh bergerak agresif mengejar ketertinggalan. Proyek pemasangan smart meter dalam skala besar diluncurkan untuk menurunkan kehilangan teknis maupun non-teknis, memperbaiki akurasi penagihan, serta meningkatkan kesehatan finansial perusahaan utilitas. Untuk utilitas di negara-negara ini, smart meter dipandang sebagai investasi strategis, bukan hanya upgrade perangkat.
Asia Tenggara berada pada posisi yang beragam. Singapura sudah cukup matang dalam pemanfaatan smart meter, sementara Malaysia dan Brunei berada dalam fase ekspansi proyek. Di negara lain seperti Indonesia dan Thailand, smart metering masih banyak berada di tahap uji coba dan perencanaan rollout yang lebih luas. Kondisi ini menjadikan kawasan ASEAN sebagai pasar yang masih awal tetapi memiliki potensi pertumbuhan besar, seiring meningkatnya kebutuhan efisiensi energi, transparansi konsumsi, dan keandalan pasokan.
Perkembangan di sisi jaringan komunikasi turut mempercepat adopsi. Jika sebelumnya smart meter banyak mengandalkan komunikasi melalui jaringan listrik (PLC) atau RF mesh lokal, kini teknologi Low Power Wide Area (LPWA) dan jaringan seluler generasi baru semakin dominan. NB-IoT dan LTE-M menawarkan jangkauan luas dan konsumsi daya rendah, cocok untuk perangkat yang diharapkan beroperasi bertahun-tahun dengan energi terbatas. LoRaWAN menjadi alternatif menarik untuk proyek-proyek tertentu seperti smart city, agrikultur, serta utilitas air dan gas, terutama di area yang sulit dijangkau infrastruktur konvensional.
Dari sudut pandang operasional, manfaat smart meter cukup jelas. Utilitas dapat mengurangi biaya pembacaan manual, mempercepat deteksi gangguan dan kebocoran, serta mendapatkan data historis yang jauh lebih kaya untuk analisis beban dan perencanaan infrastruktur. Bagi pelanggan, smart meter membuka peluang tarif yang lebih adil dan transparan, serta informasi konsumsi yang lebih detail sehingga mendorong perilaku penggunaan energi yang lebih efisien.
Gelombang smart metering di Asia-Pasifik pada akhirnya menunjukkan bahwa sistem energi sedang bergerak menuju model yang lebih data-driven dan terkoneksi. Negara dan pelaku industri yang menyiapkan strategi sejak dini—baik dari sisi infrastruktur jaringan, regulasi, maupun integrasi sistem—berpeluang besar mendapatkan manfaat terbesar dari transformasi ini, mulai dari efisiensi biaya hingga peningkatan kualitas layanan kepada pelanggan.
Sumber data: ringkasan laporan “Smart Metering in Asia-Pacific, 7th Edition” (ResearchAndMarkets/Berg Insight, 2025) dan “Global Smart Meter Report” (Counterpoint Research, 2025).
